Terkadang sebagaian orang berfikir, bagaimana mungkin saya akan mengajak orang untuk berbuat baik, sementara pribadi saya seperti ini. Biarlah saya perbaiki diri saya terlebih dahulu, kemudian jika saya sudah cukup baik, barulah saya akan menularkan kebaikan saya kepada orang lain.
Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata tidak juga terjadi perubahan, sehingga membuat kita tidak akan pernah mengajak orang untuk berbuat baik. Ada juga yang menganggap dirinya tidak pantas untuk memberi nasehat kepada orang lain, karena menurutnya hanya mufti yang berilmu tinggi sajalah yang pantas untuk memberi nasehat dan mengajak orang berbuat baik.
Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan, dari sini saja kita bisa berkesimpulan jika orang yang berpandangan akan memberi nasehat kepada orang lain saat dia sudah baik, pasti tidak akan pernah memberi nasehat kepada orang lain, karena seumur hidup kita tidak terluput dari dosa dan salah.
Seorang mata-mata Rasulullah, Ghuzaifah, Belia Rahimahullah adalah orang kepercayaan rasulullah untuk menandai orang munafik diantara kaum muslimin. Suatu hari umar bertanya kepada beliau Rahimahullah, apakah namaku terdapat dalam daftar orang-orang tersebut?
Pertanyaan umar ini membuat Ghuzaifah tersenyum kemudian menjawab, justru orang yang merasa tidak ada sifat munafik fidalam hatinyalah yang sesungguhnya dihinggapi oelh sifat munafik.
Begitulah manusia seharusnya, jangan menganggap dirinya bersih dari dosa dan salah. Apakah itu menghalangi umar RA untuk berdakwah dan berjihad? Sama sekali tidak, jadi. jangan tunggu untuk menjadi orang yang sempurna, kemudia baru berdakwah. Karena dakwah yang kita bawak juga akan menjaga kita dari kesalahan dan khilaf, membersihkan hati kita yang kotor, mensucikan tubuh kita dari noda.
Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :
*(Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187)
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata tidak juga terjadi perubahan, sehingga membuat kita tidak akan pernah mengajak orang untuk berbuat baik. Ada juga yang menganggap dirinya tidak pantas untuk memberi nasehat kepada orang lain, karena menurutnya hanya mufti yang berilmu tinggi sajalah yang pantas untuk memberi nasehat dan mengajak orang berbuat baik.
Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan, dari sini saja kita bisa berkesimpulan jika orang yang berpandangan akan memberi nasehat kepada orang lain saat dia sudah baik, pasti tidak akan pernah memberi nasehat kepada orang lain, karena seumur hidup kita tidak terluput dari dosa dan salah.
Seorang mata-mata Rasulullah, Ghuzaifah, Belia Rahimahullah adalah orang kepercayaan rasulullah untuk menandai orang munafik diantara kaum muslimin. Suatu hari umar bertanya kepada beliau Rahimahullah, apakah namaku terdapat dalam daftar orang-orang tersebut?
Pertanyaan umar ini membuat Ghuzaifah tersenyum kemudian menjawab, justru orang yang merasa tidak ada sifat munafik fidalam hatinyalah yang sesungguhnya dihinggapi oelh sifat munafik.
Begitulah manusia seharusnya, jangan menganggap dirinya bersih dari dosa dan salah. Apakah itu menghalangi umar RA untuk berdakwah dan berjihad? Sama sekali tidak, jadi. jangan tunggu untuk menjadi orang yang sempurna, kemudia baru berdakwah. Karena dakwah yang kita bawak juga akan menjaga kita dari kesalahan dan khilaf, membersihkan hati kita yang kotor, mensucikan tubuh kita dari noda.
Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :
Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian.
Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.
Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat.
Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.
Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.
Maka terus meneruslah berada pada mejelis-mejelis dzikir (mejelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.
*(Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187)


Post a Comment